Tags

, , , , , , ,

11903855_1646406638939171_8854467072029514060_nPada suatu momen saat saya sedang menjalankan prajabatan yang bertepatan pada bulan Ramadhan tahun lalu. Parajabatan merupakan sebuah diklat yang wajib diikuti seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai syarat untuk menjadi ASN full 100%, yang mana sebelumnya lebih dari 1 tahun saya merupakaan seorang ASN 80% (di nilai dari hak-hak saya sebagai ASN). Diklat prajabatan ini saya lakukan selama kurang lebih satu bulan dan memang bertepatan pada saat bulan Ramadhan. Pada sebuah materi yang disampaikan pada siang hari (setelah zuhur), keadaan menjadi begitu mencekam. Bagi saya dan teman-teman saya waktu itu, pemateri bagaikan seorang yang memaksa kami untuk tidur, semua terasa sunyi, dan tanpa terasa, saya sudah memejamkan mata dengan posisi ruh yang mulai melayang, kenikmatan ini merupakan hal yang sangat sulit digambarkan, namun seketika saya merasa ada sebuah energi negatif mendekat, yang seakan mengusik kenikmatan langka yang sedang saya rasakan. Sontak saya sadar dan melihat pemateri berdiri tepat didepan saya dan bertanya, pertanyaan yang saya simpulkan seadanya itu adalah tentang idola saya. Sebenarnya saya tidak begitu memahami apa kaitannya antara topik materi yang disampaikan dan pertanyaan yang diajukan pada saya. Namun secara spontan saya menjawab, bahwa idola saya adalah Professor, Dr. KH.Nadirsyah Hosen, M.A (Hons), LLM,Ph.D, lalu pemateri menyambung pertanyaannya, kenapa dia, dia siapa? Dalam hati saya bergumam; “sepertinya pemateri bukan orang NU nih atau paling tidak, walaupun bukan orang NU, ya kalo rajin buka FB, twitter atau biasa nulis, masa nggak tau ama Gus Nadir?” tapi ya nggak apalah, hitung-hitung sambil sharing sama temen-temen juga”. Lalu saya katakan, saya mengidolakan beliau dengan segala yang beliau sudah lakukan, baik itu dalam bidang akademik, maupun untuk kepentingan umat. Saya kagum dengan visi beliau untuk memilih jalan dakwah melalui pendekatan rasional ala barat di “Negeri Kangguru” tetapi secara teoritikal tetap merlandaskan Islam yang tradisional. Ini merupakan hasil perpaduan dari ilmu pesantren tradisional yang menjadi belak utama beliau dan ilmu akademik modern yang beliau dapat selama puluhan tahun. Karena beliau fikir, dengan cara itulah masyarakat barat akan mudah menerima Islam sebagai agama yang Rahmatallil ‘Alamiin. Dan saya dapat katakan, beliau merupakan salah satu orang yang berjasa dalam karir akademik saya hingga saat ini, meskipun beliau tidak menyadarinya. Saya telah menganggap diri saya sebagai santrinya (santri lokal jauh/ekstensi, hahaha), saya telah menganggap beliau sebagai kyai saya, rujukan saya, semangat saya. Namun ini bukan berarti saya menganggap beliau sebagai seorang sosok yang paling sempurna, namun apa yang baik dari beliau pasti saya ambil, jika ada keburukannya, cukup saya saja yang tahu. Intinya, saya kagum dengan segala pencapaian-pencapaian yang sudah beliau lakukan. Walau sudah sekaliber “professor dunia”, beliau tidak segan makan “gulai kepala ikan” bareng saya disalah satu rumah makan di Bengkulu, minum kopi bareng saya dan teman-teman, makan duren bareng, dan berbicara bahasa Bengkulu dengan fasih. Sangat berbeda dengan teman-teman saya yang lain baru ke luar negeri 2 bulan, udah pura-pura lupa bahasa Bengkulu, udah nggak mau lagi ngopi bareng saya, mungkin anggapannya udah beda level kali ya? hehehe. Anyway, Beliau sudah lebih dari 17 tahun tinggal dan mengajar di Australia, namun beliau tetap ingat dengan kampung halamannya, sebuah kota kecil di bagian barat daya pulau sumatera, yaitu Bengkulu. Ini yang membuat kekaguman saya pada beliau semakin bertambah, lalu saya berikan kembali mic kepada pemateri. Tiba-tiba, keadaan ruangan diklat menjadi hening beberapa saat, dan langsung disambut gemuruh tepuk tangan dari teman-teman. Sepertinya setelah itu, mereka jadi penasaran siapa itu Professor Nadirsyah Hosen, dari Bengkulu bagian mana, dan bahkan belakangan sudah ada yang mengkait-kaitkan hubungan keluarga dengan dengan beliau, Wallahu’alam.
Dia idola saya, yaaaa,, belau memang benar-benar menginspirasi saya.. bahkan terkahir kali beliau menulis di akun resmi facebooknya tentang perbincangan kami berdua mengenai reshuffle kabinet presiden Joko Widodo. Hal tersebut semakin menguatkan saya bahwa Prof Nadir tidak merupakan orang yang terbiasa membumi dan merakyat, tanpa perlu pencitraan. Sehat terus Prof, semoga selalu diberi keberkahan dalan menyebarkan nilai-nilai Islam di Negeri Kangguru dan dunia. Doa kami dari bumi Raflesia, tanah leluhurmu, Insya Allah selalu terucap…Barakallahh Gus.

 M. Arif Rahman Hakim

Ph.D Student

School of Educational Studies, Universiti Sains Malaysia

Advertisements