Tags

, , , , , , , ,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Apa yang anda fikirkan ketika saya awali tulisan ini dengan kata “Bani Abbasiyah”? Siapa mereka? sebegitu pentingkah mereka bagi saya, umat muslim bahkan peradaban dunia? Sehingga saya harus membahas tentang mereka diawal tulisan ini? Sebelum masuk pada topik utama pada artikel ini, mari kita bahas sekilas mengenai Bani Abbasiyah.

house of wisdom 2

Bani Abbasiyah seperti partai politik yang tak terhingga jumlahnya dalam sejarah, tumbuh berkembang dengan subur pada masanya diatas janji masa depan yang positif dan idealistik. Jaminan tentang kehidupan masyarakat yang lebih adil dan kembali pada kepemimpinan shaleh, membantu melambungkan mereka saat Bani Umayyah terpecah belah hingga harus meratapi akhir dari kekuasaan ratusan tahun. Bani Abbasiyah, menjelang awal 800-an Masehi, kerajaan mereka sudah membentang dari “Atlantik” sampai “Indus”. Mereka mempunyai ibu kota kelas dunia dengan satu juta lebih penduduk di pusat kerajaan, Baghdad. Masyarakatnya terdiri atas beragam budaya dari Yunani, Koptik, Persia, dan India, yang mengadopsi aspek- aspek kebudayaan terbaiknya. Inilah periode pembukaan masyarakat ideal yang dijanjikan dan lengkaplah menjadi Negeri termasyur di dunia pada masanya.

Terlepas dari konsep “Negeri Termasyur” yang saya gambarkan secara singkat diatas. Satu hal yang saya selalu kagumi dari masa tersebut adalah pemikiran khalifah Abbasiyah ketujuh, al Ma’mun (813) tentang konsep masyarakat ideal. Menurutnya, masyarakat masa depan yang ideal bisa diwujudkan melalui ilmu pengetahuan dan rasionalisme. Jadi, singkat kata, menurut al- Ma’mun, negerinya tidak hanya dapat mencapai sebuah kemakmuran hanya dengan kesejahteraan rakyatnya semata, namun juga harus memiliki sumber saya manusia yang bermutu. Tidak tanggung-tanggung, untuk mencapai tujuan tersebut, al- Ma’mun mencanangkan berbagai bidang pengetahuan yang ada diseluruh kerajaan harus dikumpulkan disatu lokasi terpusat. Ia yakin jika para cendikiawan terbaik dari seluruh Dunia Islam dapat dikumpulkan untuk saling berbagi satu sama lain, akan terbukalah banyak kemungkinan yang tidak terbatas. Dengan dasar pemikiran tersebut, ia mendirikan institut pendidikan di Baghdad yang dikenal dengan nama “Rumah Hikmah” (Bayt al- Hikmah). Dengan didirikannya tempat ini, maka sejarah mencatat, dimulailah proyek besar sang Khalifah yang ribuan tahun setelahnya akan mengubah bentuk dunia.

Dalam Blue Printnya, ruang lingkup Bayt al- Hikmah ini bertentangan dengan definisi modern tentang yayasan pendidikan. Dalam institusi ini, tempat belajar, mengajar, perpustakaan, badan penerjemahan, dan laboratorium penelitian berada dalam satu wilayah yang terhimpun menjadi satu dalam Bayt al- Hikmah. Sebenarnya Bayt al- Hikmah ini tidak bisa di klaim sebagai perpustakaan maupun sekolah pertama. Menurut catatan yang ada, perpustakaan dan sekolah kecil sudah ada sejak masa Bani Umayyah, namun penekanan Bani Abbasiyah pada upaya mendapatkan ilmu pengetahuan jauh melampaui para pendahulunya. Menurut catatan dan riwayat- riwayat yang ada, pada masa itu jika seorang cendikiawan dapat menerjemahkan apapaun dari bahasa asli ke Bahasa Arab, maka ia akan mendapatkan emas dari khalifah dengan jumlah seberat buku yang ia terjemahkan.

Dalam Bayt al- Hikmah, al-Ma’mun mengumpulkan cendikiawan terkenal, Muslim dan non-muslim dari seluruh pelosok negeri agar berkumpul di Baghdad sebagai bagian dari projeknya. Dasar Pemikiran al- Ma’mun dalam mendirikan Bayt al- Hikmah adalah banyaknya ayat Al- Qur’an dan hadist Nabi yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan bagi seorang muslim yang saleh, sehingga tujuan yang ditekankan pada para ilmuwan kala itu adalah menjadikan penelitian sebagai sebuah tindakan ibadah demi menggapai ridho- Nya. Sejarah mencatat, untuk kali pertama kalinya, kelompok terbaik dari tanah persia, Mesir, India dan bekas Byzantium dapat dipertemukan untuk memajukan ilmu pengetahuan yang nantinya akan bermanfaat bagi peradaban dunia. Inilah cikal bakal konsep Universitas modern yang nantinya akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Respect

M. Arif Rahman Hakim

Fakultas Tarbiyah & Tadris, IAIN Bengkulu, Indonesia

Ph.D Student, Universiti Sains Malaysia

Advertisements