Tags

, , , , , , , , , ,

14500730_1270964379603448_1040399339249178457_oDalam beberapa tahun ini, para ahli pendidikan di Indonesia menggembar gemborkan tentang prestasi yang dicapai Finlandia, yang mendapatkan predikat negara dengan sistem pendidikan terbaik se dunia. Lalu para ahli sedunia (termasuk Indonesia) ramai-ramai membahas dan mengkaji sistem pendidikan dari negara SKandinavia tersebut. Tak ketinggalan, dosen-dosen yang mengajar di fakultas pendidikan, mulai dari yang mengajar di level sarjana, magister hingga doktoral, seakan berlomba memberi tugas pada mahasiswanya untuk menganalisis beberapa paper dan membuat report mengenai sistem pendidikan di Finlandia. Pada bulan September, saya bersama teman-teman yang berasal dari beberapa PTKIN didampingin Dirjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, berkesempatan mengunjungi beberapa institusi pendidikan yang ada di Finlandia dan juga dalam rangka penjajakan kerjasama di bidang pengembangan kurikulum pada tingkat sekolah menengah kebawah. Berikut beberapa catatan saya tentang sistem pendidikan di Finlandia

1.Di Finlandia, anak, baru diperbolehkan memulai sekolah dasar pada usia 7 tahun. Alasannya di usia tersebut, anak sudah benar-benar siap untuk belajar dan fokus. Sedangkan bagi anak-anak yang umurnya masih dibawah 7 tahun, masih “diwajibkan” bermain dan mengenal lingkungan sekitarnya.

2. Sebelum usia 16 tahun, anak-anak “tidak dibebankan” pada pekerjaan rumah, standar nilai dan ujian,

3. Tidak adanya pengelompokan kelas menurut prestasi akademis.Hal ini dinilai dapat mempengaruhi psikologis dari peserta didik

4.Peserta didik memerlukan tidur yang berkualitas di pagi hari, sehingga sekolah di Finlandia dapat memenuhi kebutuhan ini.

5. Mengutip blog Filling My Map, orang tua siswa di Finlandia. Siswa biasanya mulai sekolah antara pukul 09.00 sampai 09.45, dan pulang antara pukul 14.00 hingga 14:45.

6. Sekolah di Finlandia (dikutip dari The Atlantic) memiliki jam istirahat yang berkualitas. Setelah 45 menit belajar, anak-anak diberikan waktu 15 menit untuk beristirahat.

7. Seluruh siswa diperbolehkan menghabiskan waktu istirahat di luar kelas. Bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman di sekolah dan guru pun mendapat kesempatan sama, yaitu dengan diwajibkan beristirahat dan bersosialisasi ketika jam istirahat.

8. Penerapan waktu istirahat yang demikian ternyata membuahkan hasil yang sangat baik. Setelah beristirahat, para siswa jadi lebih perhatian dan fokus belajar.

9. Hal yang sama juga terungkap dalam penelitian Anthony D. Pellegrini beserta timnya. Penulis “Recess: Its Role in Education and Development” ini menemukan anak-anak yang kurang waktu istirahat, atau ditunda istirahatnya memiliki daya konsentrasi yang kurang ketika pelajaran berlanjut.Dikatakan Pellegrini, yang jadi soal bukan berapa lama waktu istirahat yang diberikan. Tapi bagaimana para siswa menikmati sesi istirahat dengan kebebasan bermain.

10. Saat jam istirahat, para siswa mendapat kesempatan mengembangkan kompetensi sosial. Mereka berinteraksi dengan siswa lain, belajar berkomunikasi, bekerja sama dan meningkatkan keterampilan yang bisa menunjang keberhasilan dalam bidang akademis, maupun kehidupan mereka di masa depan.

11. Hal senada dikatakan psikolog Roslina Verauli. Bermain tak hanya sebatas gerak fisik tapi bisa juga melakukan hobi. “Di sekolah ada kegiatan seperti olahraga, seni atau ekstra kurikuler yang mendukung minat dan bakat anak. Sehingga anak tidak mudah emosi, temperamental, agresif dan memiliki kecemasan tinggi ketika mereka pulang sekolah,” kata Vera.

12. LA Times menulis, suasana belajar di sekolah yang dibuat menyenangkan dan tidak kaku, akan jauh berbeda dengan sistem pendidikan di Tiongkok yang membuat anak seperti berada di sekolah militer.

13. Finlandia menciptakan suasana di sekolah seperti bagian dari keluarga sehingga anak merasa betah dan nyaman saat belajar. Di kelas, anak-anak diperbolehkan untuk bersenang-senang dan tertawa. Guru pun harus menciptakan suasana yang demikian pada kelasnya.

14. Pasi Sahlberg, Director General of CIMO (Centre for International Mobility and Cooperation) untuk Finland’s Ministry of Education and Culture memaparkan karakteristik sistem pendidikan Finlandia dalam buku “Finnish Lessons: What Can the World Learn from Educational Change in Finland?”. Menurut Sahlberg, kita dapat menarik tiga pelajaran dari keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia. Pertama, reformasi sistem pendidikan dapat berhasil hanya jika hal itu menginspirasi semua yang terlibat. Dengan demikian mereka mencurahkan seluruh energi orang untuk bekerja sama demi perbaikan, serta sangat memperhatikan kesejahteraan guru (Rata- rata guru di Finlandia memiliki latar belakang pendidikan S2 dan S3, dengan kualitas sebagai pengajar professional dan gaji yang besar, sehingga perekrutan untuk menjadi guru menggunakan standar yang sangat tinggi). Kedua, Finlandia memiliki guru-guru yang lebih terlatih dari negara lain. Namun yang membedakan adalah, sistem pendidikan Finlandia fokus pada perbaikan pengetahuan profesional dan keterampilan para guru, sebagai pemimpin, dan sebagai bagian dari kelompok guru. Guru-guru di Finlandia belajar untuk bekerja sama dengan guru lain. Ketiga, contoh transformasi sistem pendidikan sukses di Finlandia–dan pelajaran dari Kanada, Singapura, Jepang dan Korea–memperlihatkan tentang apa yang bisa menjadi penggerak dalam perubahan sistem pendidikan. Yaitu kebijakan yang baik dan tingkat kesejahteraan warga.

Finlandia, September 2016
Sirajuddin. M

Professor Fiqh Siyasah

IAIN Bengkulu

Advertisements