Tags

, , , , ,

14567377_349406865397502_332962696434994952_o

Berbicara mengenai pos, tentunya sebagai warga negara Indonesia, saya tidak asing dengan jasa pengiriman yang bernama POS.

Pastinya ini berkaitan dengan benda-benda seperti amplop, kartu pos, perangko dan warna oranye (Pos Indonesia). Saya masih pernah merasakan begitu berjasanya “pak pos” dalam mengantarkan surat dan barang kerumah saya. Maka dari itu, ketika di Sydney, saya begitu tertarik sehingga menyempatkan diri untuk mengumpulkan data dan menulis artikel mengenai keadaan pos di Australia. Berikut data-data yang saya dapatkan dan sudah saya tulis dalam bentuk artikel.

Di Australia, kantor pos masih berfungsi dengan sangat baik hingga hari ini. Setiap hari kantor pos Australia mengirim kira-kira sekitar 20 juta benda pos ke 11 juta alamat di seluruh pelosok negeri. Mengingat Australia adalah satu-satunya negeri yang berdiri diatas benua Australia, dapat dibayangkan betapa luasnya daya jelajah “tukang pos” di Australia. Satu hal menarik yang saya ingat dari masyarakat di Australia adalah kebiasaan mereka berkirim surat ke keluarga atau kolega mereka yang tinggal jauh dari tempat mereka. Hal ini masih dianggap suatu seni dalam berkomunikasi bagi masyarakat Australia, sehingga POS di Australia masih memiliki pelanggan setianya. Namun baru-baru ini, terdapat beberapa kebijakan dari PT Pos Australia yang mendapat beberapa tanggapan negatif dari masyarakat Australia. Rencana PT. Pos Australia mengenakan biaya tambahan untuk jasa pengiriman surat ditolak sejumlah kalangan pebisnis dan penyedia jasa sosial. Mereka menilai kebijakan itu akan memberatkan masyarakat berpendapatan rendah dan juga mereka yang tinggal di kawasan regional.

Australia post yang merupakan perusahaan bisnis jasa pengiriman surat tradisional PT. Pos Australia merugi jutaan dolar karena terus berkurangnya ketergantungan terhadap kertas (paperless). (Credit: ABC)
Dalam survey online tahunan baru-baru ini, PT. Pos Australia meminta para pelanggannya memilih dua opsi pengiriman surat, yaitu surat mereka dikirimkan tiga kali dalam sepekan atau bersedia membayar biaya tambahan sebesar AUD$30 atau sekitar Rp.300.000 per tahun untuk jasa pengiriman surat tersebut.

Dewan Layanan Sosial di Australia Selatan mengatakan banyak orang tidak mampu menanggung beban tambahan biaya lagi.

“Pengiriman surat itu sangat penting dan masih menjadi layanan yang mereka andalkan terutama bagi warga berpendapatan rendah yang sudah dibebani terlebih dahulu oleh tekanan biaya hidup,” kata juru bicara lembaga tersebut, Ross Wommersley.

“Kelompok warga ini sangat bergantung kepada layanan dari Pos Australia untuk mengirimkan tidak cuma berbagai tagihan tapi juga hal lain yang membantu mempermudah urusan mereka. Karenanya memberlakukan biaya tambahan atas pengiriman surat-surat itu akan sangat membebani keuangan mereka,” katanya.

Penolakan juga diungkapkan kalangan pebisnis. Ketua Kamar Dagang NSW, Damian Kelly mengatakan dua opsi yang ditawarkan Pos Australia akan sangat berdampak pada dunia usaha. Jika jadi diterapkan, pasti akan banyak menyulitkan dunia usaha di Australia, memang tidak sampai menghentikan bisnis masyarakat, tapi sudah pasti akan memperlambat urusan yang terkait dengan pengembangan bisnis mereka. Hal ini akan lebih terasa dampaknya terutama bagi bisnin yang dijalankan dikawasan pedesaan Australia, dan regional New South Wales, dampak kebijakan ini akan sangat amat menyulitkan bagi sejumlah bisnis yang masih mengandalkan ongkos kirim dan jasa ongkos kirim

Pada pernyataannya demi menanggapi protes masyarakat, secara resmi PT. Pos Australia menyatakan bahwa survey yang mereka lakukan hanya sekedar menjajaki pendapat para pelanggan saja, bisa dikatakan ini hanya preliminary survey dan belum tentu akan menjadi kebijakan resmi perusahaannya di masa mendatang. PT. POS Australia mengatakan bahwa memahami kalau kebutuhan pelanggannya telah berubah, karenanya setiap tahun mereka melakukan jajak pendapat kepada pelanggan terkait kebijakan- kebijakan yang akan diambil perusahaan nantinya. Bisa dikatakan jika mereka juga memandang penting pendapat pelanggan mengenai pelayanan yang mereka berikan.

Faktanya, PT. Pos Australia masih mendistribusikan lebih dari 93 juta surat setiap minggunya. Namun demikian, mereka merilis bahwa saat ini mereka harus menanggung kerugian jutaan dolar dari sektor jasa pengiriman surat tradisional. Meski demikian kondisi ini cukup diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan di sektor pengiriman barang yang terus meningkat. Bisnis pengiriman surat Pos Australia juga terus terdesak oleh semakin berkurangnya ketergantungan terhadap kertas dan meningkatnya perdagangan dan ekonomi versi online di internet. Lembaga konsumen Australia mengatakan sebagai pelanggan masyarakat tidak boleh dibebankan pada kondisi keuangan yang dihadapi PT. Pos Australia.

Menurut Angela Cartwright, juru bicara lembaga kamar dagang New South Wales, jasa pengiriman surat merupakan pelayanan negara terhadap masyarakat, karenanya masyarakat sangat prihatin jika ke depan kualitas pelayanan ini akan dikurangi. Masyarakat tentu memahami tantangan yang dihadapi Pos Australia, tapi tidak berarti jawaban agar PT. Pos Australia tetap mengedepankan meraup laba lalu mengurangi kualitas layanan yang diberikan pada masyarakat.

Cartwright menambahkan banyak warga masih bergantung pada pengiriman surat setiap hari. Sebelum mayoritas masyarakat benar-benar beralih ke komunikasi elektronik, PT. Pos Australia sekarang bahkan hingga beberapa dekade kedepan tetap benar-benar menjadi penyedia layanan penting yang penting bagi banyak orang Australia.

Bagaimana dengan kondisi kantor pos di Indonesia saat ini? Jujur, dalam setahun saya hanya beberapa kali mengunjungi kantor POS, itupun karena saya diharuskan mengirim dokumen ke luar negeri yang beberapa agen pengiriman lain tidak menyediakan layanan serupa. Sepengetahuan saya kantor POS Indonesia saat ini lebih banyak didatangi oleh orang-orang yang ingin mengambil tunjangan pensiun dan beberapa ada menggunakan jasa pengiriman uang seperti western union. Saya masih ingat ketika ibu saya yang baru pindah ke Bengkulu ditahun 1993,  membaca surat dari “mbah” saya yang berada di daerah Brebes, Jawa tengah. Begitu dinantinya surat tersebut sehingga ibu saya selalu bertanya kepada tukang pos yang hampir setiap hari melewati depan rumah saya mengenai surat yang beratas namakan dirinya. Saya juga ingat sewaktu masih tinggal di Banda Aceh ditahun 1998, beberapa waktu ayah saya mengajak saya ketukang pos dan menyuruh saya untuk menempelkan perangko dipojok kanan surat yang akan dikirim ayah saya, begitu ekslusifnya perangko kala itu, sehingga seringkali saya dan adik saya bertengkar hanya karena rebutan ingin menempel perangko disurat yang akan ayah kirim, sehingga sampai sekarangpun saya masih menganggap bahwa perangko dan kartu pos merupakan benda berharga. Pernah suatu ketika saya diminta membelikan perangko untuk ditempelkan kesebuah surat dan materai untuk keperluan lain, namun saya malah menempel materai pada surat tersebut, hingga kini, secara psikologis, terkadang saya masih menganggap sama antara perangko dan materai, meskipun faktanya 2 benda tersebut jelas-jelas berbeda.

M. Arif Rahman Hakim

Informasi Tambahan: Akses kode pos wilayah Australia;  https://kode-pos.cybo.com/australia/
Source: http://www.radioaustralia.net.au/

Advertisements