Apa itu Intovert ?

Berdasarkan survey yang saya lakukan dan mengacu pada beberapa pendapat kebanyakan orang, mereka mengartikan bahwa introvert identik dengan pemalu. Padahal sama sekali bukan. Pemalu adalah wujud kesulitan orang membawa diri berhadapan dengan dunia luar, baik itu orang baru ataupun lingkungan baru. Pemalu lebih cenderung ke perilaku seorang individu. Memang banyak orang introvert yang juga pemalu, namun tidak selalu seperti itu. “Pemalu? Tidak. Saya memang tidak mempunyai topik untuk dibicarakan,” begitulah yang akan diucapkan seorang introvert jika berbicara mengenai dirinya. Banyak orang introvert bisa menjadi pembicara yang sangat baik di depan ribuan orang seperti Richard Nixon misalnya, mantan presiden AS. Tapi selesai berorasi dia akan memilih langsung pulang ke rumah meninggalkan after party.  Ada juga introvert yang bisa berorasi sangat hebat di depan ratusan mahasiswa demonstran tetapi sehari-harinya menikmati baca buku sendirian di kamar kost. Banyak aktor hebat intovert yang mampu memukau penonton tak hanya di layar lebar tapi juga di pertunjukan teater yang tersohor. Tapi sehari-hari? Diam menyendiri di rumah sambil bermain dengan kucing atau anjing peliharaan. Apakah mereka pemalu? Pasti tidak. Karena butuh keberanian hebat untuk tampil bukan? Jadi apa sebenarnya introvert ? Introvert secara sederhana bisa diartikan sebagai orientasi kepribadian, di mana seseorang memerlukan waktu untuk menyendiri demi memperoleh energi. Jadi kuncinya adalah sendiri, lalu recharging.

Kebalikan dari introvert adalah ekstrovert. Ketika seorang ekstrovert dan introvert pergi bersama ke sebuah keramaian, dalam efeknya keramaian dapat memberikan energi pada seorang ekstrovert tapi hal tersebut dapat menguras energi si introvert. Seorang berkepribadian ekstrovert akan sangat senang berada di tengah kerumunan orang banyak. Bertemu dan bisa berkumpul dengan orang banyak. Hal tersebut akan memberikan energi baru bagi dirinya. Hadir dalam pesta, menonton konser musik, berwisata berombongan, sungguh sangat menyenangkan bagi si ekstrovert. Sementara bagi seorang introvert, bertemu dengan banyak orang itu seperti menguras energi, melelahkan, membosankan. Mereka tidak keberatan hadir di pesta, mereka bisa bersosialisasi juga dengan baik. Bukan seperti pemalu. Tapi seorang introvert tidak bisa tahan lama di pesta. Sementara ekstrovert makin lama di pesta akan makin bersemangat. Saya memiliki seorang teman yang introvert. Suatu ketika saya mengajaknya ke sebuah tempat yang cukup ramai dan terdapat sebuah konser disana. Selang setengah jam, saya melihatnya dan dari raut mukanya terbaca jelas, “Cukup! Aku bosan!“. Seketika saya merasa telah memaksa ia untuk menemani saya merecharge energi saya dengan mengorbankan teman saya tersebut. Lalu spontan saya mengajaknya untuk duduk di coffee shop yang sepi dengan menikmati musik jazz untuk beberapa saat, lalu pulang. Ia terlihat sedikit lebih bahagia setelahnya.

Sendiri itu membosankan bagi seorang ekstrovert, tapi membahagiakan introvert. Bagi seorang ekstrovert, sendiri itu identik dengan menyedihkan. Jika melihat seseorang duduk sendirian, mereka akan merasa iba lalu berusaha menyapa dan mengajak lebih aktif berbicara. Di dunia yang rata-rata dikuasai kaum ekstrovert, seseorang yang sendirian itu selalu dianggap kesepian. Ekstrovert tidak bisa memahami kenapa orang perlu waktu untuk menyendiri. Sementara sebaliknya seorang introvert sangat memerlukan waktu untuk menyendiri. Apalagi setelah lama bersama dengan banyak orang. Sendiri bagi introvert itu sama halnya seperti tidur siang, istirahat atau makan sesuatu yang bergizi. Kesendirian bisa memberikan sumber energi baru bagi introvert. Sama seperti teman saya. Setelah seharian berada di kampus, yang menurutnya serba “bising, kacau, ribut”, dia pasti sangat lelah dan memerlukan waktu sendiri. Duduk diam dikamar tanpa diganggu pertanyaan berlebihan, atau sembari membaca buku, menikmati segelas kopi atau bermain game, itu akan sangat membantunya. Bandingkan dengan seorang ekstrovert yang begitu selesai kuliah langsung ke kantin, berkumpul dengan teman-temannya ditengah keramaian, lalu berbicara terus tiada henti hingga sampai dirumahpun ia terkadang masih memikirkan untuk pergi hangout bersama teman-temannya. Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman. Karena bermaksud baik dan ramah, seorang ekstrovert berusaha mengajak ngobrol si introvert. Padahal, bagi si introvert itu bentuk gangguan. Maka tak jarang orang introvert dicap sombong, angkuh atau kasar. “Sudah baik-baik diajak ngobrol malah cemberut, menyebalkan!” begitu kira-kira yang sering terjadi.

Merujuk pada beberapa tindak kriminal yang marak terjadi akhir-akhir ini, lalu para terdakwa diberikan hukuman seperti kurungan penjara dengan maksud membatasi ruang komunikasi para terdakwa tersebut, lalu sering kita membaca pada buku sejarah tentang pengasingan pada musuh politik, seperti yang sering dilakukan oleh para penjajah yang mengasingkan para pejuang bangsa Indonesia saat itu seperti Ir.Soekarno, Pangeran Diponegoro dan lainnya, menurut saya itu hanya cocok diberikan ke orang ekstrovert. Sedangkan jika hal tersebut diberikan pada seorang introvert, kemungkinan besar mereka akan merasa lebih nyaman dan sehat.

 

M. Arif Rahman Hakim

Dikutip dari berbagai sumber

Advertisements